Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengapa Screenshot Penghasilan Lebih Menarik daripada Cerita Kegagalan?

 

Mengapa Screenshot Penghasilan lebih Menarik daripada Cerita Kegagalan? Gambar: gorbysaputra.com
Mengapa Screenshot Penghasilan lebih Menarik daripada Cerita Kegagalan?
Gambar: gorbysaputra.com

Ada sesuatu yang menarik setiap kali seseorang mengunggah screenshot penghasilan di media sosial.

Angkanya tidak perlu dijelaskan terlalu panjang.

  • Rp5 juta.
  • Rp10 juta.
  • Rp20 juta.
  • Rp50 juta.

Bahkan terkadang hanya sebuah potongan layar dashboard dengan beberapa angka di dalamnya.

Orang langsung berhenti menggulir.

  • Ada yang memberi selamat.
  • Ada yang bertanya.
  • Ada yang penasaran.


Ada pula yang diam-diam menghitung dalam kepala:

  • “Kalau dia bisa mendapatkan sebanyak itu, saya kapan?”

Bandingkan dengan seseorang yang menulis:

  • “Saya sudah mencoba selama dua tahun. Banyak yang gagal. Beberapa strategi tidak bekerja. Pernah mengeluarkan modal tanpa hasil. Sempat ingin berhenti. Kemudian perlahan menemukan cara yang lebih cocok.”

Cerita seperti ini sebenarnya jauh lebih dekat dengan kenyataan banyak pekerjaan digital.
Tetapi anehnya, ia tidak selalu mempunyai daya tarik yang sama.


Mengapa?

Mungkin karena angka jauh lebih mudah dipahami daripada perjalanan.

Dan mungkin juga karena angka tidak hanya menunjukkan hasil. Ia memberi kita sesuatu yang sangat mudah untuk dibandingkan.

## Angka membuat sesuatu yang abstrak menjadi terlihat

Penghasilan sebenarnya adalah sesuatu yang tidak bisa kita lihat secara langsung.

Kita tidak bisa melihat “Rp20 juta” sebagai sebuah benda di layar.
Yang kita lihat adalah simbolnya.

Namun simbol itu cukup kuat.

Ketika seseorang mengatakan:

  • “Saya mendapatkan hasil yang lumayan dari pekerjaan ini.”

kita masih harus membayangkan apa arti “lumayan”.

Tetapi ketika ia mengatakan:

  • “Rp20.437.000 bulan ini.”

pikiran kita memperoleh sesuatu yang jauh lebih konkret.

  • Ada ukuran.
  • Ada angka.
  • Ada titik pembanding.

Itulah salah satu alasan mengapa angka mudah menarik perhatian.

Bukan karena manusia selalu tertarik pada uang, tetapi karena angka membuat sesuatu yang sebelumnya samar menjadi lebih mudah dibandingkan.

Hal serupa sebenarnya terjadi di banyak tempat.

Kita lebih mudah memahami:

  • 1 juta views

daripada:

  • “Video ini cukup banyak ditonton.”

Kita lebih mudah memahami:

  • 100.000 followers

daripada:

  • “Saya mempunyai audiens yang lumayan besar.”

Kita lebih mudah menangkap:

  • Rp50 juta omzet

daripada:

  • “Bisnis ini sedang berkembang.”

Angka memberikan kesan kepastian.
Tetapi ada satu hal yang sering terlupakan:

  • angka memberikan ukuran, bukan selalu penjelasan.

Kita tahu berapa.
Belum tentu tahu mengapa.

Di sinilah perbandingan sosial mulai bekerja

Manusia memang mempunyai kecenderungan membandingkan dirinya dengan orang lain. Dalam psikologi sosial, proses tersebut dikenal sebagai social comparison.

Media sosial membuat proses ini jauh lebih mudah dilakukan. Kita tidak perlu datang ke tempat orang lain.

  • Tidak perlu mengenalnya.
  • Tidak perlu mengetahui kehidupannya secara langsung.

Cukup membuka aplikasi.

Dalam beberapa menit, kita bisa melihat orang yang:

  • lebih sukses,
  • lebih kaya,
  • lebih terkenal,
  • lebih produktif,
  • lebih banyak klien,
  • lebih banyak views,
  • atau lebih besar penghasilannya.

Penelitian mengenai social comparison di media sosial menunjukkan bahwa platform digital memang menyediakan lingkungan yang sangat subur untuk perbandingan semacam ini. Review penelitian menemukan bahwa perbandingan ke atas cukup umum dalam penggunaan media sosial, meskipun dampaknya tidak selalu sama bagi setiap orang.

Ini penting.

Sebab kita tidak perlu langsung menyimpulkan:

  • “Melihat orang sukses pasti membuat orang lain minder.”

Tidak sesederhana itu. Bagi sebagian orang, keberhasilan orang lain justru bisa menjadi motivasi.

Ada yang berpikir:

  • “Kalau dia bisa belajar, saya juga mungkin bisa.”

Ada pula yang melihatnya sebagai referensi. Tetapi bagi sebagian orang lain, perbandingan tersebut dapat berubah menjadi tekanan.

Penelitian eksperimen terhadap penggunaan media sosial menemukan bahwa perbandingan ke atas yang lebih sering dan lebih ekstrem dapat menurunkan evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri.

Jadi persoalannya bukan pada screenshot itu sendiri. 
Persoalannya adalah apa yang terjadi di kepala orang yang melihatnya.

Screenshot penghasilan bukan hanya angka

Bayangkan seseorang mengunggah:

  • “Bulan ini Rp30 juta.”

Secara sederhana, itu hanya informasi. Tetapi pembaca bisa menerjemahkannya menjadi banyak hal.

  • “Berarti cara ini menghasilkan.”
  • “Berarti orang ini hebat.”
  • “Berarti saya tertinggal.”
  • “Berarti saya juga harus mencoba.”
  • “Berarti pekerjaan ini menjanjikan.”
  • “Berarti saya selama ini salah memilih jalan.”

Satu angka yang sama dapat menghasilkan reaksi berbeda pada orang yang berbeda.
Karena angka tersebut tidak berdiri sendirian.

Ia bertemu dengan pengalaman pembacanya.

  • Orang yang sedang mencari pekerjaan mungkin melihatnya sebagai peluang.
  • Orang yang sedang kesulitan ekonomi mungkin melihatnya sebagai harapan.
  • Orang yang sudah lama bekerja di bidang tersebut mungkin melihatnya biasa saja.
  • Orang yang merasa tertinggal mungkin melihatnya sebagai tekanan.
  • Orang yang sedang membangun bisnis mungkin melihatnya sebagai data.

Karena itu, mengatakan bahwa screenshot penghasilan hanya sekadar “pamer” juga terlalu sederhana.

  • Kadang ia memang merupakan bentuk berbagi.
  • Kadang menjadi cara membangun reputasi.
  • Kadang menjadi alat pemasaran.
  • Kadang hanya kebanggaan pribadi.

Dan beberapa fungsi itu dapat terjadi sekaligus.

Mengapa cerita kegagalan kalah menarik?

Kegagalan mempunyai satu masalah besar.
Ia tidak mudah diringkas.

Kalau seseorang gagal mendapatkan penghasilan dari blog selama satu tahun, apa angka yang harus dipasang di depan?

Nol?

Tetapi angka nol tidak menjelaskan apa-apa.

Di balik angka nol mungkin ada:

  • ratusan tulisan,
  • ribuan jam belajar,
  • biaya domain,
  • biaya hosting,
  • waktu membuat konten,
  • eksperimen SEO,
  • artikel yang tidak mendapatkan traffic,
  • strategi yang tidak berhasil,

dan berbagai keputusan yang akhirnya harus diperbaiki.

Semua itu sangat berharga sebagai pengalaman.
Tetapi tidak mudah dijadikan satu gambar.

Itulah sebabnya keberhasilan mempunyai keunggulan komunikasi.

  • Keberhasilan bisa dipadatkan.
  • Kegagalan harus diceritakan.
  • Keberhasilan bisa ditunjukkan dalam satu screenshot.
  • Kegagalan membutuhkan konteks.

Keberhasilan memberikan jawaban singkat:

  • “Ini hasilnya.”

Kegagalan memunculkan banyak pertanyaan:

  • “Mengapa gagal?”
  • “Apa yang salah?”
  • “Apa yang dipelajari?”
  • “Apa yang akhirnya diubah?”

Dan pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan perhatian lebih lama.

Di lingkungan digital yang penuh persaingan memperebutkan perhatian, perbedaan kecil seperti ini cukup berarti.

Kita juga cenderung melihat bagian yang sudah dipilihkan

Ada satu hal lain yang perlu diingat.

Media sosial bukan kamera pengawas kehidupan seseorang.

Ia lebih mirip etalase. Orang memilih apa yang ingin ditampilkan.

Ini bukan tuduhan.
Semua orang melakukan hal tersebut sampai batas tertentu.
Kita memilih foto terbaik.

  • Memilih kalimat yang paling enak dibaca.
  • Memilih momen yang ingin dibagikan.

Begitu pula dengan keberhasilan. Orang mungkin menunjukkan bulan terbaiknya.

  • Proyek terbaiknya.
  • Klien terbaiknya.
  • Pendapatan terbaiknya.

Tidak berarti apa yang ditampilkan itu palsu.

Hanya saja kita perlu memahami bahwa apa yang terlihat belum tentu merupakan keseluruhan kehidupan.

Penelitian mengenai presentasi diri di media sosial juga menunjukkan bahwa pengguna dapat melakukan seleksi dan pengelolaan terhadap bagaimana dirinya terlihat di hadapan orang lain.

Karena itu, jangan salah memahami.

Tidak lengkap” bukan berarti “bohong”.

Ini perbedaan yang sangat penting.
Sebuah screenshot bisa benar.

Tetapi screenshot tersebut tetap hanya menunjukkan satu bagian dari cerita.

Dari sini muncul masalah yang lebih halus

Ketika kita terlalu sering melihat keberhasilan orang lain, kita bisa mulai membangun gambaran yang tidak seimbang tentang kenyataan.

Bukan karena semua orang berbohong. Tetapi karena kita melihat terlalu banyak hasil akhir dan terlalu sedikit proses.

Bayangkan jika seseorang hanya melihat:

  • orang mendapatkan klien,
  • orang mendapat penghasilan,
  • orang viral,
  • orang membeli rumah,
  • orang menghasilkan dari YouTube,
  • orang sukses dengan affiliate,
  • orang mendapatkan pekerjaan baru.

Lalu semuanya muncul setiap hari.

Lama-lama kehidupan digital dapat terasa seperti semua orang sedang bergerak maju kecuali dirinya.

Padahal yang terjadi sebenarnya lebih sederhana.

Kita sedang melihat banyak orang memperlihatkan momen tertentu dari kehidupannya pada waktu yang bersamaan.

Penelitian terbaru mengenai perbandingan sosial di media sosial menunjukkan adanya hubungan antara perbandingan ke atas dan berbagai indikator kesejahteraan psikologis yang lebih buruk, tetapi penelitian tersebut juga menekankan adanya variasi yang cukup besar antarindividu dan konteks.

Jadi kita tidak perlu takut melihat keberhasilan orang lain.

Yang perlu dijaga adalah cara kita menafsirkannya.

Jangan mengubah keberhasilan orang lain menjadi ukuran nilai diri

Ini mungkin bagian yang paling penting.

Seseorang mendapatkan Rp30 juta bulan ini.
Itu adalah fakta tentang kondisi keuangan orang tersebut pada konteks tertentu.

Tetapi tidak otomatis menjadi bukti bahwa:

  • “Saya gagal.”

Begitu pula seseorang mempunyai 500.000 followers.

Itu tidak otomatis berarti seseorang dengan 5.000 followers tidak mempunyai nilai.
Seseorang mendapatkan banyak klien.

Tidak berarti orang yang sedang mencari klien adalah orang yang tidak kompeten.
Masalah muncul ketika ukuran milik orang lain kita jadikan ukuran harga diri sendiri.

Padahal titik awal kita berbeda.

  • Kemampuan berbeda.
  • Lingkungan berbeda.
  • Tanggung jawab berbeda.
  • Modal berbeda.
  • Kesempatan berbeda.

Bahkan waktu yang kita miliki setiap hari pun berbeda.

Membandingkan hasil tanpa membandingkan konteks adalah cara yang cukup mudah untuk menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Tetapi mengapa angka tetap begitu menggoda?

Karena angka memberikan sesuatu yang sulit diberikan oleh cerita panjang: 

  • kepastian yang terasa sederhana.

Rp20 juta terlihat lebih meyakinkan daripada:

  • “Saya sudah menemukan pola yang mulai bekerja.”

100.000 followers terlihat lebih kuat daripada:

  • “Saya mulai mempunyai audiens yang loyal.”

1 juta views terlihat lebih besar daripada:

  • “Konten ini perlahan menemukan pembacanya.”

Angka membuat keberhasilan terlihat selesai.

Padahal kehidupan sebenarnya jarang selesai dalam satu angka.
Bahkan pendapatan Rp50 juta pun belum menjawab apakah seseorang sedang baik-baik saja.


Begitu pula pendapatan Rp5 juta tidak otomatis berarti seseorang gagal.

  • Angka mempunyai arti hanya jika kita mengetahui konteksnya.
  • Omzet berbeda dengan keuntungan.

Pendapatan berbeda dengan kekayaan.

  • Traffic berbeda dengan penjualan.
  • Followers berbeda dengan pelanggan.
  • Views berbeda dengan loyalitas.

Dan screenshot berbeda dengan keseluruhan cerita.

Mungkin karena itu kita perlu mengubah pertanyaan

Daripada bertanya:

  • “Berapa penghasilanmu?”

sesekali kita bisa bertanya:

  • “Apa yang kamu pelajari sebelum sampai ke sana?”

Daripada:

  • “Berapa views-nya?”

coba:

  • “Apa yang membuat konten itu berhasil?”

Daripada:

  • “Berapa followers?”

coba:

  • “Berapa banyak yang benar-benar mempercayai apa yang kamu kerjakan?”

Pertanyaan semacam ini memang kurang spektakuler.
Tetapi jauh lebih berguna.
Sebab kita tidak lagi hanya mengejar angka.

Kita sedang mencari mekanisme di belakang angka.

Cerita kegagalan sebenarnya mempunyai nilai yang berbeda

Ada satu alasan mengapa saya justru menganggap cerita kegagalan penting.

Kegagalan membantu kita memahami batas.

Misalnya seseorang mengatakan:

  • “Saya mencoba Adsense selama setahun dan tidak berhasil.”

Itu bukan berarti Adsense buruk.

Tetapi pengalaman tersebut dapat mengajarkan bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa:

  • Apakah traffic-nya cukup?
  • Apakah topiknya tepat?
  • Apakah audiensnya sesuai?
  • Apakah monetisasinya memang cocok?
  • Apakah ekspektasinya terlalu tinggi?
  • Apakah strateginya tidak tepat?

Kegagalan tidak selalu memberikan jawaban.

Tetapi sering memberikan pertanyaan yang lebih baik.

Dan pertanyaan yang lebih baik kadang jauh lebih berharga daripada jawaban yang terlalu cepat.

Kita tidak perlu berhenti melihat screenshot

Tidak ada alasan untuk memusuhi screenshot penghasilan.

  • Kalau seseorang berhasil, silakan diapresiasi.
  • Kalau seseorang ingin berbagi, silakan dibaca.
  • Kalau ada metode yang menarik, silakan dipelajari.

Tetapi jangan berhenti pada angka.

Anggap screenshot sebagai pintu masuk, bukan sebagai kesimpulan.

  • Lihat konteksnya.
  • Periksa sumbernya.
  • Pahami model bisnisnya.
  • Cari tahu apakah angka itu berulang atau hanya sesekali.

Dan kalau memang ingin mencoba, lakukan dengan ukuran yang masuk akal.

Jangan mengambil keputusan besar hanya karena melihat keberhasilan orang lain dalam beberapa detik.

Sebab kita tidak sedang melihat seluruh kehidupannya.

Kita sedang melihat sesuatu yang dipilih untuk ditampilkan.

Pada akhirnya, yang paling berbahaya bukan angka

Angka sebenarnya tidak berbahaya.

Yang bisa menyesatkan adalah ketika angka diberi makna yang terlalu besar.

Rp20 juta berubah menjadi:

  • “Ini jalan cepat menuju sukses.”

500.000 followers berubah menjadi:

  • “Orang ini pasti ahli.”

1 juta views berubah menjadi:

  • “Kontennya pasti berkualitas.”

Screenshot berubah menjadi:

  • “Cara ini pasti berhasil.”

Di titik itulah kita mulai melompat terlalu jauh.
Sebuah bukti keberhasilan hanya membuktikan keberhasilan tertentu.

Ia belum otomatis membuktikan penyebabnya.
Dan belum tentu menjadi jaminan untuk orang lain.

Mungkin ini alasan mengapa kita perlu sedikit lebih tenang ketika berhadapan dengan konten keberhasilan di internet.

  • Tidak perlu iri.
  • Tidak perlu kagum berlebihan.
  • Tidak perlu pula sinis.

Cukup lihat dengan kepala yang lebih dingin.

  • Tanyakan apa yang terlihat.
  • Kemudian tanyakan juga apa yang tidak terlihat.

Sebab mungkin yang membuat screenshot penghasilan begitu menarik bukan hanya karena kita ingin tahu berapa banyak uang yang diperoleh orang lain.

Bisa jadi, jauh di dalamnya, kita sedang mencoba menjawab pertanyaan tentang diri sendiri:

  • Apakah saya juga bisa?”

Pertanyaan itu manusiawi.

Yang perlu dijaga adalah jangan sampai jawaban atas pertanyaan tersebut ditentukan hanya oleh satu screenshot.


Kita boleh melihat hasil orang lain sebagai inspirasi.
Tetapi jangan menjadikannya sebagai ukuran untuk menghukum diri sendiri.

Dan kalau benar-benar ingin belajar, mungkin pertanyaan terbaik bukan:

“Berapa yang dia dapat?”
melainkan:
“Apa yang sebenarnya terjadi sebelum angka itu muncul?”

Posting Komentar untuk "Mengapa Screenshot Penghasilan Lebih Menarik daripada Cerita Kegagalan?"