Antara Kebenaran, Pembenaran, Dan Relevansi: Catatan Tentang Perilaku Digital
![]() |
| Antara Kebenaran, Pembenaran, Dan Relevansi: Catatan Tentang Perilaku Digital Gambar: gorbysaputra.com |
Antara Kebenaran, Pembenaran, dan Relevansi
Tulisan ini tidak lahir dari satu peristiwa besar. Ia muncul dari pengamatan kecil yang berulang:
- membaca komentar, melihat caption, memperhatikan judul, dan merasakan perubahan suasana setiap kali membuka platform digital.
Di ruang digital, sering kali yang paling ramai bukan yang paling benar, tetapi yang paling terasa. Dari situlah pertanyaan pelan-pelan muncul:
sebenarnya apa yang sedang dicari pengguna platform digital? Kebenaran, pembenaran, atau sekadar sesuatu yang terasa relevan dengan dirinya?
Perilaku: Kebiasaan yang Dibentuk, Bukan Sekadar Pilihan
Perilaku digital jarang terbentuk dalam satu hari. Ia lahir dari kebiasaan kecil yang diulang terus-menerus.
- Membaca sekilas. Mengomentari sebelum memahami. Membagikan karena judulnya terasa mewakili perasaan. Lama-kelamaan, pola ini terasa normal.
Bukan karena manusia kehilangan kemampuan berpikir, tetapi karena sistem digital melatih respons cepat. Yang lambat terasa tertinggal. Yang reflektif kalah oleh yang reaktif.
Di titik ini, perilaku bukan lagi soal kehendak pribadi semata, melainkan hasil interaksi panjang antara manusia dan lingkungan digitalnya.
Peran Algoritma dan AI: Penentu Ritme yang Tak Terlihat
Algoritma tidak memiliki niat, apalagi nilai. Ia hanya membaca pola.
- Apa yang sering disentuh akan diperbanyak ?
- Apa yang memancing emosi akan diulang ?
- Apa yang membuat orang berhenti sejenak akan dianggap berhasil ?
AI kemudian hadir sebagai perangkai. Ia merapikan bahasa, menyesuaikan nada, dan menyusun ulang informasi agar terasa lebih dekat.
Akibatnya, apa yang terlihat di beranda bukanlah dunia secara utuh, melainkan dunia versi kemungkinan terbesar untuk mendapat respons.
Teks, Narasi, Clickbait, Font, dan Warna
Judul pendek, kalimat menggantung, huruf besar, warna kontras semuanya memiliki satu tujuan:
- menghentikan jempol.
Clickbait tidak selalu berarti bohong. Ia sering kali hanya membesar-besarkan satu sisi emosi. Namun ketika dilakukan terus-menerus, standar persepsi ikut bergeser.
- Narasi yang tenang terasa kurang menarik. Penjelasan panjang dianggap melelahkan. Yang ekstrem justru terlihat wajar.
Bahasa visual dan teks akhirnya bukan lagi alat komunikasi, melainkan alat kompetisi perhatian.
Emosional dan Niche: Ketika Konten Menjadi Cermin Diri
Konten yang bertahan lama biasanya tidak netral. Ia menyentuh emosi tertentu.
- Marah, takut, harapan, rasa dimengerti. Niche tidak lagi sekadar topik, tetapi kesamaan rasa.
Ketika seseorang merasa "ini tentangku", keterikatan terbentuk. Konten berubah menjadi cermin identitas.
Namun, keterikatan ini juga membawa risiko: sudut pandang menyempit, dan perbedaan mulai terasa mengganggu.
Echo Chamber: Ruang Nyaman yang Membatasi
Echo chamber jarang disadari saat pertama kali terbentuk. Ia terasa nyaman.
- Sistem menyajikan pandangan serupa. Opini yang sejalan diperkuat. Yang berbeda perlahan menghilang dari layar.
Di dalam ruang ini, pembenaran terasa lebih mudah daripada pencarian kebenaran. Karena semua yang terlihat seolah sudah sepakat.
Substansi: Yang Tidak Hilang, Hanya Tersisih
Substansi tidak benar-benar menghilang dari ruang digital. Ia hanya kalah cepat.
- Konten yang membutuhkan waktu untuk dipahami sering tersingkir oleh konten yang langsung memicu reaksi.
Diskusi berubah menjadi pernyataan. Dialog menjadi posisi. Kedalaman tergantikan oleh kecepatan.
Konteks: Bagian yang Sering Tertinggal
Banyak kesalahpahaman digital bukan terjadi karena niat buruk, melainkan karena konteks yang hilang.
- Potongan kalimat dilepas dari latarnya. Cuplikan video berdiri sendiri. Data dipisahkan dari cerita asalnya.
Tanpa konteks, kebenaran menjadi rapuh. Dan dalam kondisi rapuh, pembenaran terasa lebih nyaman.
Tentang Apa yang Sebenarnya Dicari
Di ruang digital, pencarian jarang murni tentang fakta. Ia sering bercampur dengan emosi, identitas, dan kebutuhan untuk merasa tidak sendirian.
- Sebagian mencari kebenaran. Sebagian mencari pembenaran. Sebagian lain hanya ingin menemukan sesuatu yang terasa relevan dengan dirinya.
Menyadari perbedaan ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami arah.
Karena di tengah arus yang semakin cepat, kesadaran sering kali menjadi bentuk kebijaksanaan paling sederhana.


Posting Komentar untuk "Antara Kebenaran, Pembenaran, Dan Relevansi: Catatan Tentang Perilaku Digital"