Ketahanan Listrik & Internet Indonesia: Membaca Sistem, Bukan Menakuti Masa Depan
![]() |
| Ketahanan Listik & Internet Indonesia : Membaca Sistem, Bukan Menakuti Masa Depan Gambar : gorbysaputra.com |
Di Indonesia, listrik padam dan internet mati sering dipahami sebagai gangguan teknis sesaat. Padahal, jika ditarik lebih dalam, keduanya adalah gejala dari sistem yang bekerja di bawah tekanan:
- tekanan alam, tekanan tata ruang
- tekanan kebijakan
- tekanan ekonomi
- dan tekanan perilaku manusia.
Tulisan ini tidak berdiri sebagai laporan resmi, bukan pula opini lepas. Ia disusun sebagai narasi sistemik—jenis bacaan yang bisa dipahami oleh warga biasa, pelaku usaha, pengambil keputusan daerah, hingga pembaca awam yang hanya ingin mengerti:
- mengapa hal ini terus berulang?
- dan bagaimana seharusnya kita memahaminya?
Pendekatan yang digunakan menggabungkan pemikiran dari perencanaan wilayah, ekonomi digital, rekayasa infrastruktur, sosiologi teknologi, dan ekologi manusia—tanpa menjadikannya rumit atau terasa akademis.
1. Dari Gangguan Teknis ke Gangguan Sistemik
Ketika hujan deras membuat listrik padam dan sinyal hilang, yang terjadi bukan sekadar kabel terendam air atau gardu korsleting. Yang terganggu adalah rantai sistem.
Listrik dan internet hari ini bekerja seperti jaringan saraf.
Satu titik lumpuh dapat memengaruhi titik lain yang secara geografis berjauhan.
- Inilah yang dalam teori sistem disebut sebagai system interdependency—ketergantungan antar bagian yang tinggi.
Di kota besar, satu gardu mati bisa menghentikan:
- sistem pembayaran
- pompa air
- jaringan komunikasi
- layanan publik digital
Sementara di desa satu menara BTS mati bisa berarti terputusnya :
- akses pendidikan
- kesehatan
- dan informasi cuaca.
Gangguan ini bersifat sistemik, bukan insidental. Ia muncul berulang karena desain sistem tidak sepenuhnya selaras dengan konteks wilayah.
2. Listrik dan Internet sebagai Infrastruktur Sosial-Ekonomi
Dalam kajian ekonomi pembangunan modern, infrastruktur dibagi dua:
- fisik dan sosial. Di Indonesia, listrik dan internet berada di irisan keduanya.
Listrik tidak hanya menyalakan lampu, tetapi:
- menentukan jam kerja
- menjaga rantai pendingin pangan
- menopang layanan kesehatan
Internet tidak hanya alat komunikasi, tetapi:
- ruang ekonomi
- media pendidikan
- sarana koordinasi sosial
Ketika keduanya terganggu, yang terdampak bukan hanya individu, tetapi struktur ekonomi lokal.
- UMKM berhenti
- pekerja harian kehilangan pendapatan
- layanan publik tersendat.
Inilah mengapa dalam banyak kajian ketahanan wilayah, listrik dan internet kini diperlakukan sebagai critical social infrastructure.
3. Indonesia sebagai Negara dengan Keragaman Sistem
Berbeda dengan negara kontinental, Indonesia adalah negara kepulauan dengan tingkat keragaman tinggi.
Setiap wilayah memiliki kombinasi unik:
- kondisi alam
- budaya
- tata kelola
- kapasitas ekonomi
- tingkat pendidikan
Maka pendekatan satu resep untuk semua hampir selalu gagal.
Wilayah Urban
Kota besar cenderung memiliki jaringan listrik dan internet yang kuat, namun rapuh terhadap gangguan skala besar. Ketergantungan total pada sistem terpusat membuat kota sangat efisien dalam kondisi normal, tetapi sangat rentan ketika terjadi gangguan.
Dalam teori ketahanan, ini disebut high efficiency–low resilience system.
Wilayah Transisi dan Pinggiran
Wilayah ini tumbuh cepat, tetapi infrastrukturnya sering tertinggal.
- Kabel
- gardu
- dan menara dibangun mengikuti kebutuhan jangka pendek, bukan desain jangka panjang.
Wilayah Rural dan Kepulauan
Di sini, tantangan utama adalah distribusi dan biaya. Namun menariknya, wilayah ini justru memiliki peluang besar untuk sistem desentralisasi:
energi lokal, jaringan kecil, dan kemandirian komunitas.
4. Perubahan Tata Ruang dan Dampaknya yang Tidak Terlihat
Perubahan fungsi lahan—dari resapan air menjadi permukiman atau kawasan ekonomi—sering tidak diikuti dengan penyesuaian infrastruktur bawah tanah.
- Drainase berubah, aliran air berubah, tetapi posisi kabel dan gardu tetap.
Dalam perencanaan kota, ini dikenal sebagai spatial mismatch:
- ruang berubah lebih cepat daripada sistem pendukungnya.
Akibatnya, hujan yang dulu aman kini menjadi pemicu gangguan listrik dan internet.
5. Manusia di Dalam Sistem: Bukan Sekadar Pengguna
Manusia sering ditempatkan sebagai pengguna akhir. Padahal, manusia adalah variabel aktif.
- Perilaku konsumsi listrik, pola penggunaan internet, hingga kepatuhan terhadap tata ruang, semuanya memengaruhi ketahanan sistem.
Dalam pendekatan socio-technical system, ketahanan muncul ketika:
- teknologi sesuai konteks
- manusia memahami batas sistem
- kebijakan memberi ruang adaptasi
6. Dari Ketergantungan ke Ketahanan
- Ketahanan bukan berarti bebas gangguan.
- Ketahanan berarti mampu pulih cepat dan beradaptasi.
Wilayah yang tahan gangguan biasanya memiliki:
- sumber energi cadangan
- jaringan alternatif
- pengetahuan lokal
Ini bukan teknologi mahal, melainkan desain yang sadar konteks.
7. Politik, Ekonomi, dan Kekuasaan di Balik Infrastruktur
Listrik dan internet tidak pernah netral. Di balik kabel, gardu, dan menara, selalu ada keputusan politik, kepentingan ekonomi, dan kalkulasi kekuasaan.
Dalam praktiknya, arah pembangunan listrik dan internet sangat dipengaruhi oleh:
- prioritas politik pusat dan daerah
- kepentingan investor dan pemilik modal
- orientasi bisnis jangka pendek atau panjang
Wilayah dengan nilai ekonomi tinggi cenderung mendapat infrastruktur lebih cepat dan lebih stabil.
Sementara wilayah dengan nilai ekonomi rendah sering dianggap tidak prioritas, meskipun kebutuhan sosialnya tinggi.
- Ini bukan tuduhan, melainkan pola yang berulang dalam banyak kajian pembangunan.
Ketika kebijakan lebih berpihak pada pertumbuhan angka ekonomi makro, ketahanan sistem di tingkat lokal sering tertinggal.
8. Peran Pengusaha, Pebisnis, dan Investasi
Pengusaha dan investor memiliki posisi strategis dalam ekosistem ini. Mereka bukan sekadar pengguna listrik dan internet, tetapi penentu arah penggunaan.
Investasi digital, pusat data, kawasan industri, dan properti skala besar sering kali:
- meningkatkan beban listrik lokal
- mengubah pola konsumsi energi
- memengaruhi stabilitas jaringan
Di sisi lain, investasi yang tepat dapat:
- memperkuat infrastruktur
- membuka lapangan kerja
- meningkatkan kapasitas daerah
Kuncinya bukan menolak investasi, melainkan memastikan investasi selaras dengan daya dukung wilayah.
9. Membaca Potensi Daerah Secara Menyeluruh
Potensi daerah tidak bisa hanya dilihat dari jumlah penduduk atau nilai PDRB.
Ia harus dibaca sebagai kombinasi:
- jumlah dan komposisi masyarakat
- tingkat pendapatan dan profesi
- budaya kerja dan kebiasaan hidup
- bahasa dan cara berkomunikasi
- kebutuhan dasar dan aspirasi
Wilayah dengan budaya gotong royong kuat, misalnya, lebih mudah membangun sistem energi komunitas.
Wilayah dengan tradisi dagang kuat lebih cepat beradaptasi dengan ekonomi digital.
Membaca potensi ini adalah langkah awal menuju desain sistem listrik dan internet yang relevan.
10. Ketahanan sebagai Strategi Wilayah
- Ketahanan bukan proyek teknis, tetapi strategi wilayah.
Ia menuntut kolaborasi antara:
- pemerintah sebagai pengarah
- pelaku usaha sebagai penggerak ekonomi
- masyarakat sebagai penjaga keberlanjutan
Wilayah yang tahan gangguan biasanya bukan yang paling canggih, tetapi yang paling memahami dirinya sendiri.
11. Ekonomi Digital Berbasis Konteks Lokal
Ekonomi digital yang berkelanjutan tidak tumbuh dari imitasi model global.
Ia tumbuh dari:
- pemahaman konteks lokal
- teknologi yang sesuai kebutuhan
- kebijakan yang adaptif
Dengan pendekatan ini, gangguan listrik atau internet tidak menghancurkan sistem, tetapi menjadi bagian dari proses belajar dan penyesuaian.
Menata Sistem, Bukan Menyederhanakan Realitas
Tulisan ini tidak menawarkan solusi tunggal atau klaim kepastian.
Ia menawarkan cara melihat.
- Bahwa listrik dan internet adalah simpul dari politik, ekonomi, budaya, dan alam. Bahwa ketahanan lahir dari kesadaran bersama, bukan dari teknologi semata.
Dengan memahami sistem secara utuh, kita tidak sekadar bertahan—kita menata masa depan dengan lebih sadar.


Posting Komentar untuk "Ketahanan Listrik & Internet Indonesia: Membaca Sistem, Bukan Menakuti Masa Depan"