Masih Relevankah Menjadi Blogger, SEO, dan Copywriter di Era AI?
![]() |
| Masih Relevankah Menjadi Blogger, SEO, dan Copywriting di Era AI? Gambar: gorbysaputra.com |
Pertanyaan yang Diam-diam Mengganggu Banyak Orang ?
Ada satu pertanyaan yang mungkin tidak selalu diucapkan keras-keras, tetapi terus berputar di kepala banyak orang yang hidup dari tulisan.
Pertanyaan itu biasanya muncul bukan saat membaca berita teknologi, melainkan ketika membuka dashboard analytics yang sepi. Saat email penawaran kerja sama tak kunjung masuk. Saat melihat tarif jasa ditawar setengah dari tahun lalu. Atau ketika membaca komentar di forum dan media sosial yang menyiratkan satu hal:
“Sekarang semua bisa pakai AI.”
- Bagi blogger pemula, pertanyaan ini datang lebih awal—bahkan sebelum benar-benar mulai.
- Bagi blogger lama, pertanyaan ini terasa lebih menyakitkan, karena muncul setelah bertahun-tahun membangun arsip tulisan, SEO, dan identitas.
Di tengah ledakan tools penulis berbasis AI, kemunculan AI Overview di mesin pencari, menjamurnya marketplace blog dan content placement, serta dominasi profesi berbasis visual seperti YouTuber, Podcaster, Influencer, TikTokers, hingga buzzer, posisi profesi berbasis tulisan terasa semakin kabur.
Banyak yang akhirnya bertanya, dengan nada ragu tapi jujur:
- Masih masuk akalkah memulai blog hari ini?
- Masih ada tempat untuk SEO dan copywriting jika mesin bisa menulis lebih cepat?
- Apakah tulisan masih punya nilai ekonomi, atau hanya nostalgia profesi lama?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak lahir dari mental lemah atau ketidakmauan belajar.
Justru sebaliknya. Ia lahir dari pengalaman konkret:
- traffic yang tidak lagi stabil meski struktur SEO rapi,
- artikel panjang yang tenggelam oleh ringkasan instan,
- klien yang kini membandingkan harga manusia dengan biaya langganan AI,
dan persaingan yang tidak lagi terjadi di level kemampuan, melainkan di level sistem.
Di titik inilah banyak blogger—terutama yang bekerja sendirian, bermodal terbatas, tanpa tim—mulai merasa bukan kalah pintar, tetapi kalah posisi.
Fakta Pertama: AI Tidak Menghilangkan Profesi, Tapi Menghilangkan Lapisan Lama
AI tidak menghapus blogger, SEO, atau copywriter.
Yang hilang adalah lapisan kerja lama:
- Artikel generik berbasis keyword
- SEO teknis tanpa konteks tujuan
- Copywriting template tanpa pemahaman audiens
- Konten yang hanya mengejar ranking, bukan keputusan
Lapisan ini sekarang diambil alih AI, karena memang secara sistem lebih efisien dikerjakan mesin.
Ini bukan asumsi. Ini terlihat dari:
- AI mampu menghasilkan ribuan artikel SEO-ready dalam hitungan menit
- AI Overview menyajikan ringkasan jawaban tanpa perlu klik
- Search engine mulai memprioritaskan source of reasoning, bukan sekadar teks
Artinya: fungsi lama tidak lagi bernilai ekonomi tinggi.
Fakta Kedua: Banjir Profesi Baru Bukan Kompetitor, Tapi Penanda Pergeseran Atensi
YouTuber, Podcaster, Influencer, Streamer, hingga buzzer sering dianggap “mengambil panggung” blogger.
Padahal, yang terjadi adalah pergeseran medan:
- Dari teks ke narasi multimodal
- Dari ranking ke distribusi atensi
- Dari traffic ke pengaruh keputusan
Namun di balik itu, muncul satu kebutuhan baru yang sering luput:
- Struktur berpikir, konteks, dan legitimasi informasi
- Di sinilah profesi berbasis tulisan tidak hilang, tetapi berubah fungsi.
Fakta Ketiga: SEO, SEM, dan Copywriting Kini Bukan Lagi Jasa Teknis
Di era AI Overview, SEO bukan lagi soal:
- DA/PA
- Backlink massal
- Density keyword
SEO kini bergerak ke arah:
- Information architecture
- Topical authority berbasis nalar
- Konten yang bisa dirujuk AI karena jelas dan kontekstual
Copywriting pun bergeser:
- Dari memancing klik
- Menjadi menjelaskan keputusan
Digital marketing tidak lagi sekadar optimasi channel, melainkan:
- Menyelaraskan pesan
- Menyederhanakan kompleksitas
- Membantu institusi kecil dipahami
Ini bukan adaptasi kosmetik, melainkan perubahan peran.
Jadi, Masih Relevankah?
Jawabannya: relevan, jika fungsinya berubah.
Tidak lagi relevan sebagai:
- Penulis artikel massal
- Penyedia jasa teknis tanpa konteks
- Operator tools
Masih relevan—bahkan semakin dibutuhkan—sebagai:
- Penerjemah kompleksitas
- Penyusun narasi institusional
- Perancang struktur informasi
- Penyedia kerangka berpikir
Inilah celah yang tidak bisa diisi AI sepenuhnya, karena AI tidak memiliki tanggung jawab sosial, konteks lokal, dan keberlanjutan relasi.
Mengapa Blog Pribadi Masih Penting di Era AI?
- Blog bukan lagi mesin traffic.
Blog adalah:
- Jejak berpikir publik
- CV intelektual
- Referensi bagi AI Overview
- Validasi bagi institusi kecil
Website sekolah, yayasan, UMKM, dan organisasi kecil tidak mencari sensasi.
Mereka mencari:
- Penjelasan
- Kejelasan
- Orang yang memahami kondisi mereka
Di sinilah blog seperti gorbysaputra.com bekerja—bukan sebagai etalase jasa murah, tetapi sebagai ruang berpikir yang bisa dirujuk.
Tentang Solusi: Bukan Bertahan, Tapi Menyempitkan Medan
Solusi bagi individu dengan modal dan jaringan terbatas bukan memperluas layanan, melainkan:
- Menyempitkan audiens
- Memperjelas fungsi
- Menawarkan kerja intelektual yang terukur
Bukan menjual:
- "SEO ranking 1"
Tetapi menawarkan:
- Penataan narasi website
- Penjelasan struktur konten
- Penyelarasan pesan dengan audiens
Dengan harga yang tidak murah, tetapi masuk akal, karena yang dijual adalah waktu berpikir, bukan janji instan.
Algoritma Tidak Mencari yang Terbanyak, Tapi yang Paling Jelas
Di era AI dan banjir konten, algoritma tidak lagi kekurangan tulisan.
Yang dicari adalah:
- Kejelasan sudut pandang
- Konsistensi narasi
- Relevansi terhadap konteks pengguna
Profesi blogger, SEO, copywriting, dan digital marketing tidak mati.
Ia menyusut, memadat, dan beralih fungsi. Bagi yang memahami ini, blog bukan beban. Ia menjadi aset berpikir yang terus bekerja—bahkan ketika algoritma berubah.


Posting Komentar untuk "Masih Relevankah Menjadi Blogger, SEO, dan Copywriter di Era AI?"