Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Media Sosial, AI, dan False Mobility: Ilusi Mobilitas Sosial di Era Ekonomi Atensi

 

Media Sosial, AI, dan False Mobility: Ilusi Mobilitas Sosial di Era Ekonomi Atensi  Gambar : gorbysaputra.com
Media Sosial, AI, dan False Mobility: Ilusi Mobilitas Sosial di Era Ekonomi Atensi 
Gambar : gorbysaputra.com

Mobilitas Sosial yang Terlihat Bergerak, Tetapi Tidak Berpindah

— sosiologi ekonomi, mobilitas sosial selalu dipahami sebagai perubahan posisi kelas yang nyata dan berjangka panjang. Ukurannya tidak berhenti pada penghasilan sesaat, tetapi mencakup akumulasi aset, stabilitas kerja, perlindungan sosial, serta kemampuan menghadapi risiko hidup lintas waktu. Mobilitas sosial berarti seseorang benar-benar berpindah posisi struktural, bukan sekadar tampak bergerak di permukaan.

Di era media sosial dan kecerdasan buatan, muncul fenomena yang semakin sering dialami banyak orang tetapi jarang dibahas secara jujur: 

  • false mobility atau mobilitas semu. Individu merasa hidupnya meningkat, status sosialnya terlihat naik, dan produktivitasnya tampak melonjak, sementara fondasi hidupnya tetap rapuh. Rasa naik kelas hadir secara simbolik, bukan struktural.

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari pertemuan antara platform digital, logika ekonomi atensi, dan perkembangan AI yang mengubah cara kerja, cara tampil, serta cara manusia menilai kemajuan hidup.

False Mobility secara Perspektif Sosiologi Ekonomi

Secara sosiologis, false mobility terjadi ketika indikator-indikator simbolik menggantikan indikator material. Individu memperoleh pengakuan, visibilitas, dan validasi sosial, tetapi tidak memperoleh keamanan ekonomi. Ia dikenal banyak orang, tetapi tetap hidup tanpa jaring pengaman. Ia terlihat produktif, tetapi rentan saat arus perhatian berhenti.

  • Contoh ini mudah ditemui secara keseharian digital. Seorang kreator konten memiliki ratusan ribu pengikut, tetapi tidak memiliki pendapatan tetap. Video viral menghasilkan jutaan tayangan, namun tidak diikuti kontrak jangka panjang atau perlindungan kerja. Aktivitas produksi konten berlangsung nyaris setiap hari, sementara kepastian hidup tetap bergantung pada algoritma yang berubah tanpa pemberitahuan.

— konteks ini, mobilitas yang dirasakan lebih menyerupai pergeseran citra dibanding pergeseran kelas.

Kapital Simbolik dan Ilusi Kekayaan Digital

Pierre Bourdieu menjelaskan bahwa masyarakat mengenal berbagai bentuk kapital. Kapital ekonomi mencakup uang dan aset. Kapital sosial berkaitan dengan jaringan. Kapital budaya berkaitan dengan pengetahuan dan legitimasi. Media sosial memperkenalkan bentuk kapital yang sangat dominan secara visual: kapital simbolik.

  • Like, view, komentar, pengikut, dan exposure berfungsi sebagai tanda pengakuan. Ia terlihat seperti kekayaan karena tampil publik, terukur, dan bisa dibandingkan. Namun kapital simbolik tidak otomatis berubah menjadi kapital ekonomi. Ia tidak menjamin pendapatan stabil, tidak menjamin perlindungan kesehatan, dan tidak menjamin keberlanjutan hidup.

Masalah muncul ketika kapital simbolik dipersepsikan setara dengan kemapanan. Banyak orang terlihat seolah telah naik kelas, padahal hanya berpindah posisi di ruang representasi digital. Ketika platform berubah, sponsor pergi, atau audiens bergeser, tidak ada bantalan struktural yang menahan jatuhnya kondisi hidup.

AI dan Percepatan Ilusi Produktivitas

Kecerdasan buatan mempercepat produksi konten secara drastis. Penulisan, penyuntingan, desain visual, hingga replikasi gaya populer menjadi jauh lebih mudah. Hambatan teknis turun. Jumlah orang yang mampu memproduksi konten meningkat tajam.

Namun dari sudut pandang ekonomi, kemudahan produksi tidak menambah kelangkaan. Justru sebaliknya, ia memperbanyak suplai. — ekonomi atensi, nilai tidak ditentukan oleh seberapa sulit konten dibuat, melainkan oleh seberapa langka perhatian manusia.

  • Ketika jutaan konten baru muncul setiap hari, nilai rata-rata perhatian per konten turun. Kerja yang dilakukan individu meningkat, sementara peluang bertahan menyempit. Distribusi hasil semakin timpang, konsisten dengan pola Pareto yang lama diamati secara ekonomi digital: sebagian kecil aktor menyerap sebagian besar perhatian dan pendapatan, sementara mayoritas berada di zona tidak pasti.

AI, pada titik ini, tidak menciptakan mobilitas struktural secara massal. Ia mempercepat kompetisi secara ruang yang semakin padat.

Mengapa False Mobility Terasa Nyata Secara Psikologis ?

False mobility sulit disadari karena ia bekerja selaras dengan mekanisme psikologis manusia. Validasi sosial memicu dopamin. Peningkatan angka pengikut memberi sensasi kemajuan. Aktivitas yang konsisten menciptakan rasa bergerak.

  • behavioral economics, manusia cenderung lebih responsif terhadap sinyal jangka pendek dibanding manfaat jangka panjang. Otak merespons notifikasi, komentar, dan lonjakan metrik, meskipun tidak ada perubahan mendasar pada keamanan hidup.

Akibatnya, individu merasa sedang membangun sesuatu, padahal fondasi strukturalnya tidak ikut bertambah. Rasa lelah sering tertutupi oleh narasi bahwa proses sedang berjalan.

Narasi Sukses sebagai Mekanisme Sistemik

Narasi sukses digital tidak muncul secara netral. — kajian ekonomi politik media, sistem modern tidak mengontrol melalui larangan, melainkan melalui cerita dominan. Cerita tentang kerja keras, konsistensi, keberanian mengambil risiko, dan mindset positif terus diulang.

  • Yang jarang muncul adalah pembahasan tentang modal awal, jaringan sosial, akses kebijakan, serta peran keberuntungan struktural. Ketika faktor-faktor ini dihilangkan, kegagalan tampak sebagai kesalahan personal, sementara keberhasilan tampak sebagai hasil individu semata.

Narasi ini berfungsi meredam kritik struktural. Upah rendah tidak lagi dipersoalkan sebagai masalah sistem. Akses timpang tidak dibaca sebagai isu kebijakan. Tanggung jawab berpindah sepenuhnya ke individu.

Produksi Tenaga Kerja Digital yang Patuh

Industri tidak perlu memaksa partisipasi. Cukup menyediakan harapan. Individu terus belajar, membeli alat, mengikuti kelas, memproduksi konten, dan mencoba kembali setelah gagal. Risiko finansial dan psikologis ditanggung individu, sementara platform menikmati suplai konten tanpa kewajiban kesejahteraan.

perspektif sosiologi konflik, narasi sukses berfungsi sebagai penstabil sosial. Ia memberi bukti simbolik bahwa sistem masih memungkinkan mobilitas, meskipun hanya bagi segelintir orang. Harapan individual menunda tuntutan kolektif.

Smartphone dan Konektivitas Tanpa Pemberdayaan

Akses teknologi kini nyaris merata. Smartphone, kuota data, dan koneksi nirkabel menjadi bagian rutin kehidupan. Namun keterhubungan tidak identik dengan pemberdayaan.

  • ekonomi atensi, yang benar-benar langka adalah fokus manusia. Platform digital dirancang untuk menyerap waktu layar, bukan meningkatkan kesejahteraan pengguna. Algoritma rekomendasi mengoptimalkan keterikatan emosi dan durasi konsumsi.

Konten yang menonjol sering kali bersifat ekstrem, emosional, atau sensasional. Bukan karena masyarakat membutuhkannya, melainkan karena emosi kuat mempertahankan perhatian lebih lama.

Mengapa Konten Ekstrem Mendominasi ?

Neurosains menunjukkan bahwa emosi intens meningkatkan fokus. Fokus meningkatkan durasi layar. Durasi layar meningkatkan pendapatan iklan. Rantai ini membentuk model bisnis utama platform.

Kekerasan, kesedihan, pornografi, dan flexing bukan anomali. Ia merupakan hasil logis dari insentif ekonomi yang memprioritaskan atensi, bukan kualitas hidup.

Posisi Content Creator, Influencer, dan Aktor Lain

  • Content creator berperan sebagai produsen atensi. Influencer menjadi perantara legitimasi. Buzzer memperkuat narasi tertentu. Scammer mengeksploitasi celah sistem secara ekstrem. Mereka bukan aktor tunggal yang berdiri di luar sistem, melainkan bagian dari ekosistem yang sama.

Sebagian menyadari perannya, sebagian hanya mengikuti insentif yang tersedia. Semua bergerak secara kompetisi perhatian yang semakin padat.

Eksploitasi Perhatian sebagai Proses Ekonomi Nyata

  • Perhatian telah menjadi komoditas. Ia diproduksi, diperdagangkan, dan dikonversi menjadi data, iklan, serta penjualan. Ketika seseorang menggulir layar tanpa tujuan, ia sedang menghasilkan nilai ekonomi bagi platform.

Konsep digital labor menjelaskan bahwa kerja tidak selalu dibayar secara bentuk upah. Banyak aktivitas daring menghasilkan surplus nilai tanpa disadari pelakunya.

  • Fenomena ini tidak dapat dijelaskan sebagai kemalasan individu atau kedangkalan generasi. Ia merupakan hasil dari sistem digital yang memproduksi ilusi kemajuan, mengalihkan tanggung jawab struktural, serta mengekstraksi perhatian sebagai sumber daya utama.

Media sosial dan AI bukan entitas netral. Keduanya mempercepat ketimpangan yang telah ada, sekaligus membungkusnya secara narasi peluang yang tampak personal dan terbuka.

Posting Komentar untuk "Media Sosial, AI, dan False Mobility: Ilusi Mobilitas Sosial di Era Ekonomi Atensi"