Pendidikan Keluarga Survival: Antara Bantuan, Amal, dan Ilusi Mobilitas Sosial
![]() |
| Pendidikan keluarga Survival : Antara Bantuan, Amal, dan Ilusi Mobilitas Sosial Gambar: gorbysaputra.com |
Fakta Awal yang Jarang Disepakati
Di banyak wilayah padat, miskin, dan berada dalam kondisi survival, pendidikan tidak hadir sebagai mekanisme pasar maupun hak universal.
Ia hadir melalui bantuan.
- Bahasa yang digunakan bukan bahasa hak warga negara, melainkan bahasa belas kasih.
Jalur pendidikan pun bergeser dari alat mobilitas sosial menjadi alat pengelolaan sosial.
- Dalam konteks ini, sekolah dan kuliah tidak dipahami sebagai ruang pembebasan, melainkan sebagai strategi bertahan hidup.
Ini bukan kebetulan, dan juga bukan semata-mata niat jahat.
Ia adalah hasil dari pertemuan antara keterbatasan negara, tekanan ekonomi masyarakat, dan logika stabilitas sosial.
Mengapa Pendidikan Keluarga Survival Hampir Selalu Lewat Bantuan?
Perspektif Ekonomi Politik Pendidikan
Negara dan institusi pendidikan berada dalam dilema struktural.
- Biaya pendidikan terus meningkat, sementara pendapatan mayoritas masyarakat berada di level rendah.
Pada saat yang sama, kapasitas fiskal negara tidak cukup kuat untuk membiayai pendidikan bermutu secara penuh dan merata.
- Jadi dalam situasi ini, solusi yang muncul bukanlah pendidikan sebagai hak universal, melainkan bantuan yang ditargetkan.
Maka lahirlah berbagai skema seperti ;
- KIP
- KKS
- beasiswa dhuafa
- UKT disesuaikan
- serta dana CSR dan yayasan amal.
Pola ini bukan karena lebih baik, melainkan karena lebih murah dan lebih mudah dikendalikan.
Bantuan dapat ;
- diatur,
- diawasi,
- dan dibatasi.
- Hak tidak.
Mengapa Bahasa yang Dipakai Adalah “Amal”, Bukan “Hak”?
Perspektif Sosiologi dan Filsafat Kekuasaan
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan alat kekuasaan.
- Ketika pendidikan disebut sebagai hak, negara memiliki kewajiban penuh.
Namun ketika ia disebut sebagai amal, posisi penerima berubah.
- Ia tidak lagi berhak menuntut, melainkan diharapkan bersyukur.
Dengan bahasa amal, ketimpangan tidak dipersoalkan secara struktural. Kualitas tidak dituntut secara terbuka.
Institusi tetap memperoleh legitimasi moral sebagai pihak yang “peduli”.
Dalam kajian sosiologi, ini dikenal sebagai moral framing of inequality:
ketimpangan dibungkus dalam narasi kebaikan, sehingga kehilangan daya kritiknya.
Apakah Ini Eksploitasi, Pemeliharaan, atau Ketidaksengajaan?
- Jawaban paling jujur adalah: iya, semuanya sekaligus.
Dari Sisi Institusi Pendidikan
Mahasiswa dari keluarga survival berfungsi;
- menjaga angka partisipasi
- mengisi kuota
- mengamankan dana negara atau hibah
- serta memperkuat citra inklusif institusi.
Namun di saat yang sama ;
- fasilitas tetap timpang
- dosen terbatas
- dan kurikulum diarahkan pada kesiapan kerja cepat, bukan pada riset, kepemimpinan, atau inovasi.
Sistem ini dikenal sebagai stratified education system:
- pendidikan berlapis sesuai kelas sosial.
Dari Sisi Negara
Negara membutuhkan stabilitas sosial, bukan lonjakan mobilitas kelas secara besar-besaran.
- Pendidikan diarahkan agar masyarakat miskin cukup terdidik,
- tetapi tidak terlalu kritis.
- Siap bekerja, bukan siap mengubah struktur.
Dari Sisi Yayasan Amal dan Agama
- Bantuan pendidikan
- memperpanjang peran moral
- menjaga otoritas simbolik
- dan menciptakan relasi pemberi–penerima.
Ini tidak selalu manipulatif, tetapi secara struktural menciptakan ketergantungan jangka panjang.
Dampak Nyata pada Institusi dan Lulusan
Institusi pendidikan dalam konteks ini cenderung berfokus ;
- pada kelulusan cepat
- kurikulum pragmatis
- minim riset dan infrastruktur yang stagnan.
- Ia berfungsi sebagai pabrik tenaga kerja murah berijazah.
Bagi mahasiswa keluarga survival, dampaknya terasa secara psikologis dan orientasi hidup.
- Rasa percaya diri rendah
- perasaan “ditolong”
- dan ketakutan gagal karena utang moral membentuk cara mereka memandang pendidikan.
- Kuliah menjadi sarana kerja, bukan ruang eksplorasi atau pembangunan kapital intelektual.
Ketergantungan Bukan Karena Bodoh
Dari perspektif psikologi dan neurosains sosial, hidup dalam bantuan membuat otak beradaptasi.
- Risiko diminimalkan, aspirasi dipersempit agar kegagalan tidak terlalu menyakitkan secara mental.
Ini bukan karena tidak mau berubah, melainkan karena biaya gagal terlalu mahal.
Ekstrakurikuler, UKM, dan Logika Bertahan Hidup
- Bagi keluarga survival, waktu adalah aset ekonomi.
- Aktivitas di luar kurikulum dipandang sebagai biaya risiko.
- Setiap jam anak dianggap sebagai potensi kerja, setiap energi sebagai cadangan produktivitas.
Larangan terhadap ekskul dan UKM bukanlah sikap anti-pendidikan, melainkan rasionalitas bertahan hidup.
Sehingga dalam kondisi chronic scarcity, otak memprioritaskan kepastian dan menolak aktivitas dengan hasil jangka panjang yang tidak pasti.
Mengapa Ekskul dan UKM “Mati Suri” di Kampus Non-Elite?
Di sekolah dan kampus non-elite, mayoritas mahasiswa berasal dari keluarga survival.
- Tekanan ekonomi tinggi dan minim role model sukses dari jalur non-akademik membuat partisipasi rendah.
Institusi pun enggan mendorong karena memahami resistensi keluarga.
Namun menariknya, anak keluarga survival tetap tertarik.
- Ekskul dan UKM menjadi ruang identitas, ruang di mana mereka bukan “anak miskin”, melainkan individu yang diakui.
Ini bukan hobi, melainkan pelarian eksistensial.
Organisasi, Energi Survival, dan Ilusi Mobilitas
Organisasi pelajar dan mahasiswa hidup subur di kalangan survival karena menyediakan makna, loyalitas, dan daya tahan.
- Namun hasil akhirnya sering dinikmati oleh kelas lain. Anak privilege tidak membutuhkan organisasi untuk naik kelas;
mereka sudah berada di kelas itu.
Sebagian kecil yang berhasil dijadikan contoh. Mayoritas yang tidak naik kelas dilupakan.
Mengapa Hanya 1–2% Aktivis yang Naik Kelas?
Pada Aspek sosiologi mobilitas sosial, mobilitas bersifat piramidal.
- Mayoritas tetap di kelas asal.
- Organisasi bukan mesin mobilitas massal, melainkan mekanisme seleksi.
- Yang naik kelas biasanya memiliki kombinasi modal budaya, sosial, ekonomi minimal, dan ketahanan psikologis.
Mayoritas aktivis keluarga survival hanya memiliki tenaga dan loyalitas.
- Itu tidak cukup untuk mengubah posisi kelas secara struktural.
Aktivisme meningkatkan peluang secara marginal, tetapi tidak mengubah struktur peluang.
Organisasi sebagai Reproduksi Elitisme
- Secara kultural
- organisasi tampak egaliter,
- tetapi bahasa
- norma
- dan gaya kepemimpinannya mengikuti habitus kelas menengah dan elite.
Anak keluarga survival harus ;
- menyesuaikan diri
- menekan identitas asal
- dan meniru simbol kelas atas.
- Yang gagal meniru akan tersingkir secara halus.
Ini bukan diskriminasi personal, melainkan mekanisme budaya yang bekerja tanpa disadari.
Pendidikan bagi keluarga survival bukan alat pembebasan penuh, melainkan alat pengelolaan kemiskinan.
- Ia tidak mengubah struktur, tetapi menjaga agar struktur tidak runtuh.
Bahasa amal menghaluskan ketimpangan, menenangkan nurani publik, dan membungkus ketidakadilan dengan kebaikan.
Ekskul dan organisasi sering menjadi ruang penghabisan tenaga dengan janji mobilitas yang tidak selalu nyata.
- Ini bukan kisah individu gagal atau malas.
- Ini adalah arsitektur kelas sosial yang bekerja rapi, tenang, dan jarang disadari.


Posting Komentar untuk "Pendidikan Keluarga Survival: Antara Bantuan, Amal, dan Ilusi Mobilitas Sosial"