Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Platform Digital, Attention Economy, dan Ketimpangan: Realitas yang Jarang Dibahas Secara Jujur

 

Platform digital, attention economny, dan ketimpangan: realitas yang jarang dibahas secara jujur Gambar: gorbysaputra.com
Platform digital, attention economny, dan ketimpangan: realitas yang jarang dibahas secara jujur
Gambar: gorbysaputra.com

Dunia digital tidak pernah netral.

Di dalamnya ada sistem, ada desain, ada model bisnis, ada algoritma, ada data, ada kepentingan iklan, ada distribusi, ada segmentasi, dan ada ketimpangan.

saya akan berusaha utuk membedah secara utuh:

  • Bagaimana platform digital bekerja ?
  • Bagaimana konten didistribusikan ?
  • Bagaimana perhatian manusia diolah ?
  • Mengapa iklan pinjol dan judi marak di kalangan bawah ?
  • Dimana posisi empati platform ?
  • Apakah kreator kecil bisa bertahan ?
  • Bagaimana trust signal dan trust score terbentuk ?
  • Dan bagaimana masa depan setelah AI ?

Semua dijelaskan tanpa spekulasi, tanpa teori liar, tanpa cocokologi.

1. Asal Usul: Behavioral Economics dan Attention Economy

Behavioral Economics

Behavioral economics adalah cabang ilmu yang menjelaskan bahwa manusia tidak selalu rasional dalam mengambil keputusan.

Tokoh penting dalam bidang ini adalah:

  • Daniel Kahneman
  • Richard Thaler

Intinya sederhana:

Manusia dipengaruhi oleh:

  • Emosi
  • Ketakutan
  • Harapan
  • Tekanan sosial
  • Keinginan cepat

Dalam dunia digital, ini menjadi bahan bakar.

Attention Economy

Konsep attention economy dipopulerkan oleh:

  • Herbert A. Simon

Prinsipnya:

Jika informasi melimpah, maka perhatian menjadi sumber daya yang langka.

  • Platform tidak menjual konten.
  • Platform menjual perhatian Anda kepada pengiklan.

2. Bagaimana Platform Besar Mendesain Sistemnya

Platform seperti:

  • Google
  • YouTube
  • Meta Platforms
  • TikTok
  • ByteDance

Tidak bekerja manual.

Mereka menggunakan:

  • Machine learning
  • Deep learning
  • Reinforcement learning
  • Collaborative filtering

Tujuannya satu:

  • Maksimalkan watch time dan engagement.

Karena :

  • Watch time = stabilitas iklan
  • Stabilitas iklan = stabilitas pendapatan

3. Bagaimana Konten Didistribusikan

Distribusi bekerja bertahap.

Contoh:

Di TikTok:

  • Video diuji ke ratusan orang dulu.
  • Jika retention tinggi → diperluas.
  • Jika rendah → berhenti.

Di YouTube:

Sistem membaca:

  • CTR
  • Average view duration
  • Retention graph

  • Algoritma tidak menilai moral.
  • Algoritma menilai performa.

4. Apakah Platform Mengklaster Berdasarkan Miskin dan Kaya?

Tidak ada label “miskin”.

Yang ada adalah klaster perilaku:

  • Jam aktif
  • Jenis perangkat (HP entry level vs flagship)
  • Lokasi
  • Pola klik
  • Pola tontonan
  • Respons terhadap iklan

Jika seseorang:

  • Sering klik promo finansial
  • Sering nonton live jualan
  • Aktif malam
  • Menggunakan HP murah

Sistem membaca:

  • High probability conversion cluster.
  • Bukan miskin.

Tapi responsif.

5. Mengapa Iklan Pinjol, Judi, Game Uang Banyak di Kalangan Bawah?

Karena sistem iklan bekerja lewat lelang otomatis (ad auction).

Pengiklan menargetkan:

  • Usia
  • Lokasi
  • Minat
  • Perangkat
  • Riwayat perilaku

Jika suatu segmen menghasilkan CTR tinggi,

maka sistem akan terus memutar iklan ke segmen itu.

  • Platform tidak memilih secara moral.
  • Platform menjalankan sistem berbasis performa.

6. Dimana Posisi Empati Platform?

Empati ada dalam bentuk:

  • Community guidelines
  • Moderasi
  • Pelaporan
  • Take down
  • Verifikasi pengiklan

Namun selama:

  • Legal secara hukum
  • Tidak melanggar kebijakan eksplisit
  • Iklan tetap berjalan.

Karena model bisnisnya adalah:

Attention → Data → Iklan.

7. Trust Signal dan Trust Score untuk Akun Kecil

Akun kecil tidak otomatis didiskriminasi.

Namun sistem membaca:

  • Konsistensi posting
  • Topik yang stabil
  • Retention penonton
  • Pelanggaran kebijakan
  • Riwayat performa

Trust signal tumbuh dari:

  • Konsistensi niche
  • Tidak sering ganti tema
  • Retention stabil
  • Minim pelanggaran

Berapa lama?

  • Tidak ada angka pasti.
  • Bisa 6 bulan.
  • Bisa 1–2 tahun.

Tergantung konsistensi dan respons audiens.

Platform menyukai prediktabilitas.

8. Mengapa Kreator Besar Makin Besar?

Karena efek:

  • Preferential attachment.

Yang besar:

  • Sudah punya histori performa
  • Sudah punya data audiens
  • Sudah punya trust score tinggi

Algoritma lebih percaya pada akun yang bisa diprediksi performanya.

9. Ketimpangan Digital Itu Nyata?

Ya.

Secara sistem:

  • Platform tidak mendesain untuk memiskinkan.

Namun karena sistem mengoptimalkan engagement,

maka:

  • Segmen dengan waktu tonton tinggi → lebih banyak didistribusi konten.

Kalangan:

  • Pengangguran
  • Gig worker
  • Pekerja informal
  • Ibu rumah tangga
  • Remaja
  • Sering punya waktu tonton lebih panjang.

Watch time tinggi = nilai ekonomi tinggi.

10. Fenomena Live Streaming dan Donasi

Live:

  • Saweran
  • Donasi
  • Marathon streaming

Bertahan karena:

  • Engagement real time tinggi.
  • Retention panjang.
  • Interaksi emosional tinggi.

Selama tidak melanggar aturan,

sistem tetap mendistribusikan.

11. Bagaimana Platform Mengelola Laporan dan Ban?

Sistem bekerja berlapis:

  • AI moderation
  • User reporting
  • Human reviewer
  • Strike system
  • Shadow limit
  • Ban permanen

Semua berbasis kebijakan tertulis.

12. Masa Depan Setelah AI

Ke depan:

  • Personalisasi makin ekstrem
  • Feed makin spesifik per individu
  • Mikro-perilaku (pause, rewind, dwell time) makin dipantau
  • Brand safety makin ketat
  • Trust system makin kompleks

Platform akan memprioritaskan:

  • Prediktabilitas.

Karena:

Prediktabilitas = stabilitas iklan.

13. Jika Minim Modal dan Minim Alat, Bisa Bertahan?

Jawaban jujur: Bisa.

Jika:

  • Fokus niche kecil tapi dalam
  • Konsisten
  • Tidak mengejar viral cepat
  • Memahami retention
  • Membangun trust perlahan

Platform tidak memprioritaskan alat mahal.

Platform memprioritaskan performa perilaku audiens.

14. Kesimpulan Besar

Platform digital:

  • Tidak membagi berdasarkan miskin atau kaya.
  • Mereka membagi berdasarkan perilaku dan probabilitas engagement.

  • Algoritma tidak punya nurani.
  • Algoritma punya metrik.

Ketimpangan bukan karena konspirasi,

tetapi karena sistem dioptimalkan untuk:

  • Maksimalisasi perhatian dan konversi.
  • Dan perhatian manusia hanya 24 jam sehari.

Jika Anda memahami ini,

  • Anda tidak lagi menjadi sekadar penonton.

Anda memahami:

  • Bagaimana sistem bekerja ?
  • Bagaimana data membaca Anda ?
  • Bagaimana distribusi terjadi ?
  • Bagaimana trust dibangun ?
  • Dan bagaimana tidak menjadi pangsa empuk ?

Itulah realitas dunia digital hari ini.

  • Tanpa ilusi.
  • Tanpa dramatisasi.
  • Tanpa teori liar.

Posting Komentar untuk "Platform Digital, Attention Economy, dan Ketimpangan: Realitas yang Jarang Dibahas Secara Jujur"