Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menulis untuk Blog Itu Tidak Harus Menjadi Penulis Hebat


Salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul ketika seseorang ingin mulai ngeblog:

«“Saya nggak pandai menulis. Apa masih bisa ngeblog?”»

Jawabannya sederhana:

Bisa.

Tetapi ada yang perlu dibedakan.

Tidak pandai menulis seperti sastrawan bukan berarti tidak mampu menyampaikan informasi.

Begitu juga bisa mengetik cepat tidak otomatis berarti bisa menulis dengan baik.

Mengetik dan Menulis Itu Berbeda

Mengetik adalah memasukkan kata menggunakan keyboard.
Menulis adalah menyusun pikiran supaya orang lain memahami apa yang kita maksud.

Seseorang bisa mengetik sangat cepat tetapi tulisannya berantakan.

Sebaliknya, seseorang bisa mengetik biasa saja tetapi mampu menjelaskan sesuatu dengan jelas.

Blogging lebih membutuhkan kemampuan kedua.

Anda tidak perlu menjadi penulis novel.

Anda perlu bisa mengatakan:

«“Ini masalahnya.”»
«“Ini penyebabnya.”»
«“Ini cara mengatasinya.”»
«“Ini yang perlu diperhatikan.”»

Sesederhana itu dulu.

Jangan Terjebak pada Kata "Natural"

Istilah “natural” juga sering membuat pemula bingung.

Natural bukan berarti harus menulis seperti ngobrol tanpa aturan.
Natural juga bukan berarti menggunakan bahasa gaul sebanyak mungkin.

Tulisan natural adalah tulisan yang terasa masuk akal bagi manusia yang membacanya.

Misalnya:

«“Laptop terbaik murah berkualitas merupakan laptop murah terbaik berkualitas untuk pengguna yang mencari laptop murah berkualitas.”»

Keyword-nya mungkin terlihat jelas.

Tetapi manusia membaca dan bertanya:

«“Ini sebenarnya mau ngomong apa?”»

Lebih baik:

«“Kalau anggaran terbatas, jangan hanya melihat harga. Perhatikan juga RAM, penyimpanan, prosesor, dan kebutuhan penggunaan.”»

Lebih sederhana.

Lebih jelas.

Mulailah dari Kemampuan Menjelaskan

Kalau benar-benar pemula, tidak perlu langsung belajar teknik menulis yang rumit.

Latih dulu kemampuan menjelaskan.

Ambil satu benda.

Misalnya:

«“Apa itu keyboard mechanical?”»

Kemudian jelaskan menggunakan bahasa sendiri.

Setelah itu coba jawab:

«Apa itu?»
«Apa manfaatnya?»
«Apa kekurangannya?»
«Siapa yang cocok menggunakannya?»

Tanpa sadar Anda sedang belajar membuat struktur informasi.

Kemudian Belajar Beberapa Bentuk Tulisan

Dalam blogging, tulisan tidak selalu sama.

Ada tulisan yang bertujuan:

menjelaskan
«Apa itu SEO?»

Ada yang bertujuan:
mengajarkan
«Cara membuat blog.»

Ada yang:
membandingkan
«Blogger vs WordPress.»

Ada yang:
membantu memilih
«Laptop untuk mahasiswa.»

Ada yang:
menjawab masalah
«Kenapa website saya tidak mendapatkan pengunjung?»

Ada yang:
membantu keputusan pembelian
«Apakah jasa SEO seharga Rp5 juta layak?»

Cara menulisnya tentu tidak selalu sama.

Tidak Semua Artikel Harus Panjang

Ini juga perlu diluruskan.

Artikel 3.000 kata tidak otomatis lebih baik daripada artikel 700 kata.

Kalau pertanyaan pembaca bisa dijawab dengan jelas dalam 700 kata, tidak perlu dipanjangkan hanya supaya terlihat “SEO”.

Yang lebih penting:

«Apakah kebutuhan pembaca selesai setelah membaca?»

Kalau iya, berarti panjang bukan persoalan utama.

Lalu Bagaimana dengan AI?

AI sangat membantu.

Terutama untuk orang yang baru belajar.

AI dapat membantu:

- mencari ide;
- membuat kerangka;
- mengembangkan pertanyaan;
- merapikan kalimat;
- membuat variasi judul;
- membantu menjelaskan konsep;
- membantu menemukan bagian yang masih membingungkan.

Tetapi ada perbedaan besar antara:

«AI membantu menulis.»
dan:
«AI menulis semuanya lalu langsung diterbitkan.»

Yang pertama bisa menjadi proses belajar.

Yang kedua dapat membuat seseorang tidak pernah benar-benar memahami apa yang dia terbitkan.

AI Tidak Menentukan Apa yang Penting bagi Pembaca

Misalnya Anda bertanya:

«“Buat artikel tentang harga jasa SEO.”»

AI bisa menghasilkan artikel yang sangat panjang.

Tetapi pembaca mungkin hanya ingin tahu:

«“Saya harus membayar berapa dan mendapatkan apa?”»

Kalau artikel malah menghabiskan separuh isinya untuk menjelaskan sejarah SEO, masalahnya bukan pada kemampuan AI menulis.

Masalahnya adalah arah informasinya salah.

Karena itu, kemampuan manusia tetap diperlukan untuk menentukan:

«apa yang penting;»
«apa yang tidak penting;»
«apa yang harus diperiksa;»
«apa yang kurang;»
«apa yang harus dibuang.»

Jadi Belajar Menulis Bukan Berarti Menolak AI

Justru sebaliknya.

AI bisa menjadi alat latihan.

Anda bisa menulis sendiri terlebih dahulu.

Kemudian meminta AI membantu menunjukkan:

«bagian mana yang membingungkan;»
«bagian mana yang berulang;»
«pertanyaan apa yang belum terjawab.»

Lama-lama Anda belajar melihat tulisan dengan lebih kritis.

Kemampuan Menulis yang Paling Berguna

Kalau harus memilih, saya akan menyarankan enam kemampuan:

Menjelaskan.
Menguraikan.
Membandingkan.
Memberikan instruksi.
Menganalisis.
Mengedit.

Yang terakhir sering diremehkan.

Padahal semakin matang seseorang menulis, semakin dia mampu mengatakan:

«“Bagian ini sebenarnya tidak perlu.”»

Tulisan yang baik bukan selalu tulisan yang panjang.

Kadang justru tulisan yang berhasil membuang hal-hal yang tidak perlu.

Jadi Jangan Menunggu Pandai Menulis untuk Mulai Ngeblog

Mulailah dengan kemampuan yang sudah ada.

Tulis seperti Anda sedang menjelaskan sesuatu kepada orang yang belum tahu.

Setelah itu perbaiki.

Baca kembali.
Potong bagian yang berulang.
Perjelas bagian yang membingungkan.
Tambahkan informasi yang memang dibutuhkan.
Kemudian ulangi lagi.

Karena kemampuan menulis untuk blogging bukan sesuatu yang harus selesai dipelajari sebelum membuat blog.

Kemampuan itu justru tumbuh karena digunakan.

Posting Komentar untuk "Menulis untuk Blog Itu Tidak Harus Menjadi Penulis Hebat"